MKN | MAKASSAR, Kamis, 1 Oktober 2026, sekitar pukul 13.30 WITA, langkah Zainal Abidinsyah, S.E., bersama istri dan anaknya dimulai dari Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Bukan sekadar perjalanan menuju sebuah kota. Ada satu tujuan yang telah lama diperjuangkan: menuntaskan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Fajar (UNIFA) Makassar.
Zainal Abidinsyah merupakan Camat Sebatik Timur, salah satu wilayah kecamatan yang berada di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di tengah tanggung jawabnya memimpin pemerintahan dan pelayanan masyarakat di Kecamatan Sebatik Timur, ia tetap menyempatkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Dari Sebatik, perjalanan menuju Makassar tidak ditempuh dalam sekali langkah. Sekitar 45 menit perjalanan darat dilalui sebelum Zainal dan keluarganya melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat selama kurang lebih 30 menit menuju Pelabuhan Nunukan.
Di Nunukan, mereka masih harus menunggu sekitar lima jam. Setelah itu, perjalanan panjang kembali dimulai dengan menaiki kapal Pelni KM Bukit Siguntang menuju Makassar.
Laut yang terbentang luas seolah menjadi bagian dari cerita perjuangan Zainal. Dari sebuah pulau yang berada di wilayah perbatasan Indonesia, ia bergerak menuju Makassar demi menyelesaikan satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikannya.
Namun, perjalanan menuju gelar magister bagi Zainal sebenarnya tidak hanya tentang jarak geografis.
Di baliknya ada tanggung jawab sebagai Camat Sebatik Timur yang harus tetap dijalankan. Ada pekerjaan pemerintahan yang tidak bisa ditinggalkan, ada masyarakat yang harus dilayani, sekaligus ada kewajiban akademik yang harus diselesaikan.
Di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, Zainal memilih untuk terus belajar.
Baginya, kesibukan sebagai camat bukan alasan untuk berhenti meningkatkan kapasitas diri. Pendidikan justru menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan dalam menjalankan tugas pemerintahan sekaligus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Selama menempuh pendidikan di UNIFA, fleksibilitas proses perkuliahan turut membantunya mengatur waktu. Kewajiban sebagai mahasiswa dan tanggung jawab sebagai Camat Sebatik Timur berusaha dijalankan secara beriringan.
Hasilnya pun membanggakan.
Zainal berhasil menyelesaikan Program Magister Manajemen dengan IPK 3,93 Tesis yang ditempuhnya dengan bobot 6 SKS bahkan memperoleh IP 4.00
Tesis tersebut berjudul Analisis Kualitas Pelayanan Publik di UPT Lalu Lintas dan Angkutan Sebatik Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Feri Liang Bunyu, sebuah lokasi yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan pelayanan publik di wilayah Sebatik.
Pilihan tema tersebut seakan mempertemukan dua dunia yang dijalaninya: dunia akademik dan dunia pemerintahan.
Sebagai seorang camat, Zainal bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan pelayanan masyarakat. Karena itu, ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah tidak berhenti sebagai teori, tetapi diharapkan dapat menjadi bekal untuk memahami dan menyelesaikan persoalan pelayanan publik secara lebih baik.
Kini, perjalanan akademik itu tinggal selangkah lagi menuju garis akhir.
Di Makassar, Zainal dijadwalkan mengikuti yudisium pada 6 Oktober 2026. Dua hari kemudian, 8 Oktober 2026, ia akan mengikuti prosesi wisuda.
Pada saat itulah gelar Magister Manajemen (M.M.) secara resmi akan melekat di belakang namanya, melengkapi gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) yang telah dimilikinya.
Bagi Zainal, pencapaian tersebut tentu bukan hanya tentang tambahan gelar akademik. Ada pengalaman, wawasan, pertemanan, dan proses panjang yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh civitas akademika UNIFA yang telah mendampingi proses pendidikannya.
“Selama kuliah di UNIFA, saya mendapatkan banyak ilmu, pengalaman dan wawasan baru. Saya mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan seluruh civitas akademika UNIFA yang telah memberikan bimbingan dan pelayanan selama proses pendidikan,” ujarnya.
Zainal berharap UNIFA terus berkembang dan semakin memberikan kesempatan kepada masyarakat, terutama para profesional dan ASN di daerah, untuk melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, peningkatan kompetensi merupakan bagian penting dari perjalanan seorang aparatur negara.
Karena itu, ia juga menitipkan pesan kepada para ASN di Kalimantan Utara agar tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk berhenti belajar.
“Jangan pernah berhenti belajar. Bagi ASN, menambah ilmu dan meningkatkan kompetensi merupakan investasi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Kalau ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pesannya.
Perjalanan Zainal dari Sebatik menuju Makassar akhirnya menjadi sebuah kisah tentang ketekunan.
Sebagai Camat Sebatik Timur, ia tidak hanya menjalankan amanah pemerintahan dan melayani masyarakat di wilayah perbatasan, tetapi juga terus berupaya meningkatkan kapasitas dirinya melalui pendidikan.
Ia berangkat dari pulau di wilayah perbatasan, menempuh perjalanan darat, menyeberangi laut menuju Nunukan, kemudian mengarungi perjalanan panjang dengan KM Bukit Siguntang menuju Makassar.
Semua dilakukan demi sebuah tujuan: menyelesaikan pendidikan dan menambah bekal untuk pengabdian.
Di hadapan prosesi yudisium dan wisuda, perjalanan panjang itu perlahan menemukan maknanya.
Sebab, bagi seorang aparatur yang mengabdikan diri kepada masyarakat, pendidikan bukan sekadar tentang meraih gelar. Pendidikan adalah investasi untuk menjadi lebih mampu, lebih memahami persoalan, dan pada akhirnya memberikan pelayanan yang lebih baik.
Dari Sebatik ke Makassar, Zainal tidak hanya membawa sebuah perjalanan akademik.
Ia membawa pulang sebuah pesan sederhana: sejauh apa pun jarak yang harus ditempuh dan sebesar apa pun tanggung jawab, belajar tidak boleh berhenti. (editor : rdm)
















