Breaking News
Opini  

Dari Riuh Makassar ke Diam Long Bia : Sebuah Refleksi Malam Pergantian Tahun

Penulis : Roynal D. Mangesa, SKM., C.IJ., C.PW

MKN, Bulungan, Malam tahun baru selalu menjanjikan gemerlap. Kembang api, hitung mundur, dan tawa yang pecah di udara seolah menjadi kewajiban waktu. Namun bagi seorang perantau, malam ini justru sunyi, sunyi yang panjang, sunyi yang berjarak laut dan daratan ribuan kilometer antara Makassar dan Long Bia

Di Makassar, laut pasti masih bernafas dengan ritme yang sama. Angin membawa aroma asin yang akrab, menyusuri Pantai Losari tempat cahaya kota memantul di air. Di sana, mungkin keluarga berkumpul, berbagi cerita sederhana sambil menunggu angka berganti. Suara petasan bersahutan, memecah langit yang sejak dulu menjadi saksi tumbuh dan pulang.

banner 325x300

Sementara itu, di Long Bia malam terasa lebih dingin. Langitnya luas, heningnya tebal. Tidak ada suara ombak, hanya desir angin yang menyentuh pepohonan dan lampu sudut perempatan yang berdiri setia.

Di kamar sempit rumah tua yang katanya rumah dinas, aku duduk diam, ditemani jam tangan yang berdetak pelan. Setiap detiknya seperti mengingatkan bahwa jarak bukan sekadar angka di peta, melainkan rasa yang menetap di dada.

Tahun baru datang tanpa perayaan. Cukup sederhana, hanya makan bersama dengan teman yang tersisa yang tak memilih pulang karena tugas dan tanggungjawab, tidak ada hitung mundur, tidak ada pelukan. Secangkir kopi hangat serta lantunan nyanyian dari seorang senior, dan layar ponsel yang sesekali menyala pesan singkat dari keluarga, cukup untuk menenangkan, tapi tak pernah benar-benar menggantikan kehadiran.

Di antara Makassar dan Long Bia, rindu berjalan bolak-balik, mencari tempat untuk berlabuh.
Namun sunyi tidak selalu berarti kosong. Dalam diam, perantau belajar berdamai dengan pilihannya. Malam tahun baru menjadi cermin memantulkan lelah, tapi juga tekad yang belum padam.
Ketika jarum jam melewati angka dua belas, tidak ada sorak sorai. Hanya doa yang lirih, mengalir pelan. Untuk diri sendiri, untuk mereka yang jauh di Makassar, dan untuk hari-hari yang akan datang di Long Bia. Di antara dua arah itu, aku berdiri sendiri, namun tetap melangkah.

Malam tahun baru berlalu dengan sunyi yang jujur. Dan di sanalah, aku menemukan makna pulang yang lain: bukan soal tempat, melainkan tentang bertahan, berharap, dan percaya bahwa suatu hari jarak akan menyempit oleh waktu. Di Makassar riuh tapi Long Bia,  diam adalah cara paling jujur untuk merayakan hidup. Selamat Tahun Baru, Semoga Tahun Ini Lebih Bermakna

Penulis adalah Staff Redaksi Mata Kaltara News

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *