MKN, BULUNGAN, – Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang jalan Desa Bumi Rahayu Kecamatan Tanjung Selor, tepat di depan Kantor Polda Kalimantan Utara menjelang waktu berbuka puasa. Deretan tenda dan lapak sederhana penjual kolak, es buah, gorengan, dan aneka kue tradisional kini tak hanya menawarkan cita rasa khas Ramadhan, tetapi juga menghadirkan sentuhan modern melalui sistem pembayaran non tunai QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Fenomena ini menjadi sorotan publik di tengah kesibukan hiruk pikuk kendaraan yang melintas sepanjang jalan poros Tanjung Selor – Tanah Kuning serta kesibukan masyarakat berburu takjil, sejumlah pedagang tampak memajang kode QR di meja diantara manis dan lezatnya berbagai makanan dan minuman dagangan mereka. Pembeli cukup memindai kode melalui aplikasi mobile banking atau dompet digital lalu transaksi selesai dalam hitungan detik tanpa uang kembalian dan tanpa dipusingkan antrian panjang.
“Sekarang lebih cepat apalagi saat ramai tidak perlu repot menyiapkan uang kecil,” ujar Maiya (36), salah satu pedagang takjil yang mulai menggunakan QRIS sejak awal Ramadhan.
Lonjakan transaksi terjadi terutama 30 menit menjelang azan Magrib. Jika sebelumnya pedagang harus sigap menghitung uang dan menyediakan kembalian, kini proses jual beli berlangsung lebih efisien, dalam situasi ramai kecepatan transaksi menjadi kunci agar pelanggan tidak berdesakan.
Tidak hanya pedagang pembeli pun menyambut baik inovasi ini. Banyak warga Desa Bumi Rahayu dan Desa sekitarnya yang telah terbiasa dengan pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari. Kehadiran QRIS di lapak takjil Ramadhan dinilai sebagai langkah adaptif UMKM terhadap perkembangan teknologi keuangan.
Dari pengamatan QRIS di sektor informal seperti pedagang musiman Ramadhan menunjukkan percepatan inklusi keuangan di daerah. Digitalisasi tidak lagi menjadi milik pusat perbelanjaan modern tetapi telah menjangkau lapak-lapak sederhana di pinggir jalan desa.
Selain meningkatkan kenyamanan transaksi penggunaan QRIS juga dinilai lebih aman dan transparan. Risiko uang dapat ditekan, pencatatan keuangan lebih teratur, dan potensi akses pembiayaan ke lembaga keuangan terbuka lebih luas karena adanya riwayat transaksi digital.
Di tengah aroma kolak dan gorengan yang menggiurkan transformasi digital ini menjadi simbol perubahan zaman. Ramadhan di Desa Bumi Rahayu tahun ini bukan hanya tentang tradisi berbuka puasa tetapi juga tentang langkah kecil menuju ekonomi digital.
Takjil tetap tradisional, tapi cara bayarnya sudah masa depan dan modern














