Mata Kaltara News, TANJUNG SELOR — Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional, sejarah perjuangan tokoh Bulungan kembali diangkat ke permukaan. Salah satunya adalah Raja Muda Datu Alam, sosok bangsawan yang dikenal gagah berani menentang dominasi Belanda di tanah Bulungan pada akhir abad ke-19.
Pada pagi hari 8 November 1892, Raja Muda Datu Alam bersama pasukannya yang bersenjatakan mendau menyerbu markas Belanda di Tanjung Selor. Amarahnya meledak ketika mengetahui rakyat Bulungan dipukul dan diintimidasi oleh serdadu Belanda.
“Hei Belanda kurang ajar! Kenapa berani datang ke wilayah kami dan memukul warga kami? Pergi kau dari Bulungan!”
demikian teriakan lantang Raja Muda sambil mengacungkan mendau-nya.
Kontrolir Belanda saat itu hanya terdiam ketakutan. Namun di balik sikapnya yang seolah menenangkan, ternyata tersimpan siasat licik: ia memang diperintahkan untuk memancing amarah Raja Muda agar bisa dituduh “mengganggu ketertiban umum”.
Beberapa minggu kemudian, Belanda datang membawa pasukan besar dan menyergap Raja Muda di Tanjung Palas. Perlawanan sengit pun terjadi, namun kalah persenjataan membuat Raja Muda dan pengikutnya tertangkap, lalu dibawa ke Banjarmasin.
Sementara beberapa pengikutnya berhasil melarikan diri ke berbagai tempat: Datu Alun ke Sebatik, Datu Bestari ke Sesayap, dan Datu Amir ke Pulau Mandul.
Penangkapan ini menjadi titik awal dari penguasaan penuh Belanda atas Bulungan, terutama dalam eksploitasi sumber daya alam.
“Dengan ditangkapnya Datu Alam, Belanda lebih leluasa mengatur kesultanan dan membuka izin eksploitasi tambang di Bulungan,”
Bersambung ke jilid 2, Raja Muda Datu Alam: Pangeran Bulungan yang Menentang Penjajahan Belanda di Tanjung Selor 2.
Penulis peneliti sejarah Joko Supriyadi.
Editor : Mata Kaltara News














