Breaking News

Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin dan Habib Ali Kwitang: Jejak Nasionalisme dari Bulungan ke Proklamasi

Sultan
Foto (Terjemahan): "Di antara penumpang ‘Chr. Huygens’ yang kapalnya tiba di Priok tadi pagi, adalah Sultan Boelongan (paling kanan) bersama rombongan. Sultan telah kembali dari Eropa dan hari ini berangkat ke Buitenzorg."

Mata Kaltara News, Sejarah kembali menguak tabir masa lalu yang menunjukkan keterlibatan para tokoh lokal dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dr. Abdul Rahman Mad Ali, seorang cendekiawan Bulungan asal Malaysia, baru-baru ini membagikan sebuah foto langka dalam grup WhatsApp Komunitas Sejarah dan Budaya Kaltara.

banner 325x300

Foto tersebut memperlihatkan Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin dari Kesultanan Bulungan bersama dua tokoh ulama. Menurut taksiran, pertemuan dalam foto itu terjadi pada dekade 1930-an, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dari keterangan Bapak Farid Alhabsyi, diketahui bahwa salah satu ulama dalam foto itu adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang lebih dikenal sebagai Habib Ali Kwitang—tokoh ulama karismatik dari Betawi yang berpengaruh dalam pergerakan kebangsaan.Sultan

Nama Habib Ali Kwitang tidak asing dalam sejarah nasionalisme Indonesia. Seperti dilansir oleh jakarta.nu.or.id (5 Juni 2023), bahkan Presiden Soekarno sempat meminta nasihat Habib Ali mengenai waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Fakta ini menegaskan bahwa Habib Ali bukan hanya seorang ulama, tapi juga sosok yang mendukung penuh pergerakan nasional.

Pertemuan antara Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin dan Habib Ali Kwitang menjadi sinyal awal bahwa Sultan telah bersentuhan dengan semangat perjuangan sejak jauh hari. Maka tidak mengherankan, saat Indonesia memasuki masa-masa kritis pasca proklamasi (1946–1949), Sultan menunjukkan sikap yang jelas: berpihak kepada Republik Indonesia.

Dukungan Terbuka terhadap Republik
Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin aktif memberikan dukungan kepada berbagai gerakan pro-kemerdekaan, termasuk kepada Ikatan Nasional Indonesia (INI).

Sikap politiknya bahkan terbawa hingga ke meja perundingan yang diselenggarakan Belanda. Dalam catatan Zarkasyi (2011), Sultan menolak tawaran pangkat Kolonel dari Belanda yang ditujukan sebagai bentuk bujukan agar ia berpaling dari Republik.

Penolakan ini memperlihatkan betapa kukuhnya tekad Sultan dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.

Foto (Terjemahan): “Di antara penumpang ‘Chr. Huygens’ yang kapalnya tiba di Priok tadi pagi, adalah Sultan Boelongan (paling kanan) bersama rombongan. Sultan telah kembali dari Eropa dan hari ini berangkat ke Buitenzorg.”

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *