Breaking News
Opini  

Mengubur Budaya ABS, Membangun Kerajaan yang Transparan dan Berpihak pada Rakyat

Lembaga

Mata Kaltara NewsSore itu, langit di atas istana tampak mendung. Di balairung utama, seluruh senopati duduk rapi, menanti arahan. Suasana sunyi, hanya suara angin yang menerpa jendela. Mereka tahu, pertemuan kali ini berbeda. Raja baru saja menerima laporan tahunan kerajaan, dan wajahnya yang serius memberi tanda bahwa akan ada titah penting.

Dengan langkah mantap, Raja memasuki balairung membawa gulungan laporan. Beliau tidak langsung duduk, melainkan berdiri di hadapan para senopati. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, lalu suara tegasnya memecah keheningan:
“Aku sudah membaca laporan kalian. Di atas gulungan, semua tampak indah. Angka-angka sempurna, grafik menanjak, narasi manis. Tetapi ketika aku turun ke desa-desa, kenyataannya jauh berbeda. Ada program yang katanya selesai, ternyata hanya separuh jalan. Ada kegiatan yang difoto agar terlihat megah, padahal manfaatnya tidak pernah dirasakan rakyat. Pertanyaannya: ini keberhasilan, atau sekadar ilusi untuk menyenangkan telingaku?”

banner 325x300

Hening. Tidak ada yang berani menyahut. Raja menghela napas, lalu melanjutkan dengan suara lebih dalam:
“Inilah penyakit birokrasi yang harus kita hentikan: budaya ABS — asal bapak senang. Laporan yang penuh hiasan hanya menipu diri kita sendiri. Aku tidak ingin lagi dibohongi. Mulai hari ini, kubur budaya itu. Aku lebih menghargai laporan jujur—meskipun hanya 60% tercapai, asal nyata—daripada laporan 100% yang palsu.”

Beliau menepuk gulungan laporan di depannya, menekankan kalimat berikutnya:
“Aku tetapkan target yang jelas untuk setiap senopati. Target itu bukan sekadar angka di gulungan, melainkan janji kepada rakyat. Jika progresnya lambat tapi nyata, aku bisa menerima. Tetapi kalau tidak ada progres sama sekali, jangan harap kalian masih duduk di kursi itu. Aku akan memilih senopati baru yang lebih kreatif, lebih inovatif, dan berani membuat terobosan.”

Setelah menekankan soal target, Raja beralih pada masalah harta kerajaan. Suaranya meninggi, penuh keyakinan:
“Harta kerajaan ini bukan milik kita, bukan milik bagian tertentu, apalagi milik raja. Harta ini milik rakyat. Karena itu, semua rencana dan penggunaan harta harus transparan. Aku pastikan seluruh perencanaan masuk ke dalam sistem E-BUDGETING, agar rakyat bisa melihat langsung ke mana setiap koin digunakan. Tidak ada lagi harta gelap, tidak ada lagi permainan angka. Semua harus dijalankan dengan prinsip Fairness — keadilan yang nyata, dan Good Governance — tata kelola kerajaan yang transparan, akuntabel, efektif, dan berpihak pada rakyat.”

Beliau melangkah pelan ke tengah balairung, menatap satu per satu wajah para senopati yang semakin tegang.
“Aku tidak ingin melihat kalian hanya duduk nyaman, menunggu harta dari kas kerajaan. Keluarlah dari zona nyaman itu. Jemput peluang dari kerajaan pusat, rangkul pedagang dan investor, buka pintu kemitraan. Jangan jadikan kas kerajaan sebagai sumber tunggal. Harta kerajaan harus digunakan seefektif mungkin untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kesejahteraan kita para raja.”

Raja kemudian menekankan hal yang sering diabaikan: pemberdayaan abdi dan prajurit.
“Dan satu hal yang sangat penting: berdayakan para abdi dan prajurit kalian. Jangan biarkan mereka hanya jadi tukang tanda tangan atau pengisi daftar hadir. Setiap orang punya tugas pokok dan fungsi, berikan ruang agar mereka bekerja. Kesuksesan hanya bisa dicapai jika seluruh tim diberdayakan sesuai kapasitasnya.”

Balairung semakin sunyi. Para senopati saling pandang, sebagian menunduk, sebagian lain terlihat gelisah. Raja menutup arahannya dengan suara mantap:
“Aku tidak mencari senopati yang bisa membuat raja senang dengan laporan. Aku mencari senopati yang mampu membuat rakyat tersenyum karena hidup mereka lebih baik. Jadi ingat: kubur ABS, tegakkan transparansi, kejar target dengan progres nyata, berdayakan abdi dan prajurit, keluar dari zona nyaman, dan gunakan harta kerajaan sepenuhnya untuk rakyat. Siapa yang tidak sanggup, silakan angkat kaki dari kursi itu, karena kursi ini hanya untuk mereka yang berani bekerja sungguh-sungguh.”

Beberapa hari kemudian, Raja berdiri di hadapan ribuan rakyat dalam sebuah pertemuan di alun-alun. Suaranya tidak lagi sekeras ketika menegur para senopati, tetapi tetap penuh ketegasan dan keyakinan.
“Saudara-saudaraku sekalian, aku ingin kalian tahu satu hal: seluruh titah ini bukan untuk menekan raja, tetapi untuk memastikan hak kalian terpenuhi. Harta kerajaan adalah milik rakyat, dan tugasku adalah menjaganya agar kembali pada kalian dalam bentuk pembangunan, pelayanan, dan kesejahteraan.”

Beliau menatap wajah-wajah sederhana di hadapannya, ada petani, nelayan, pedagang, hingga anak-anak. Dengan suara yang lebih lembut, ia melanjutkan:
“Aku tidak ingin melihat ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Aku tidak ingin ada anak yang putus sekolah karena biaya, tidak ingin ada keluarga yang kesulitan berobat karena layanan kesehatan buruk, tidak ingin ada desa yang terisolasi karena jalan tak kunjung dibangun. Itulah sebabnya aku menuntut transparansi, kerja keras, Fairness, Good Governance, dan inovasi dari semua senopati. Aku tidak mencari senopati yang hanya ingin menyenangkan raja dengan laporan, aku mencari senopati yang benar-benar bekerja untuk rakyat.”

Suasananya hening, banyak rakyat yang mengangguk pelan, seolah merasakan ketulusan dari kata-kata itu.
“Percayalah, aku tidak bisa bekerja sendiri. Aku butuh dukungan kalian semua. Kritiklah jika aku salah, ingatkan aku jika aku lalai, dan teruslah mendukung langkah-langkah yang berpihak kepada rakyat. Kita sedang membangun masa depan bersama, masa depan di mana harta kerajaan benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.”

Di akhir pidatonya, Raja mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menutup dengan kalimat penuh semangat:
“Mari kita kubur budaya ABS, kita bangun budaya kerja keras, transparan, adil (Fairness), Good Governance, inovatif, dan berpihak pada rakyat. Aku berjanji, kursi kerajaan hanya akan diisi oleh mereka yang benar-benar bekerja untuk kalian. Karena sesungguhnya, yang kita layani bukan angka, bukan atasan, melainkan rakyat dan masa depan anak-anak kita.”

Sorak sorai dan tepuk tangan membahana. Saat itu, rakyat merasa memiliki pemimpin yang tegas pada senopati, tetapi penuh kasih pada warganya. Sebuah harapan baru pun tumbuh: kerajaan yang benar-benar hadir untuk rakyat.

Di balik semua itu, terselip sebuah catatan kecil: cerita ini memang fiktif, tetapi menjadi impian banyak orang. Harapan agar suatu hari nanti, kerajaan ini benar-benar dipimpin oleh sosok yang memiliki visi dan misi nyata, bukan sekadar retorika kosong sebelum duduk di kursi kekuasaan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *