MKN, Bulungan, – Stunting hingga kini masih menjadi isu strategis dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang berada di bawah standar, melainkan indikator kompleks yang berkaitan dengan kualitas gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, kemiskinan, serta pola asuh. Pemerintah telah menjalankan beragam program intervensi, mulai dari pemberian makanan tambahan hingga kampanye nasional percepatan penurunan stunting. Namun, efektivitas program tersebut sangat ditentukan oleh bagaimana pesan-pesan kesehatan dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Di sinilah dimensi komunikasi menjadi krusial. Informasi tentang stunting sering kali gagal mengubah perilaku karena disampaikan secara satu arah, bersifat teknokratis, atau tidak sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat. Banyak keluarga masih memaknai stunting sebagai faktor keturunan semata, bukan sebagai masalah gizi dan kesehatan yang dapat dicegah. Oleh karena itu, isu stunting perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah medis, tetapi juga sebagai masalah komunikasi publik.
Artikel ini memilih fokus pada peran kader Posyandu sebagai opinion leader dalam komunikasi stunting karena kader berada di titik temu antara kebijakan kesehatan dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam konteks komunikasi kontemporer, peran ini semakin relevan ketika ruang interaksi sosial tidak hanya berlangsung secara tatap muka, tetapi juga melalui media digital.
Kader Posyandu: Aktor Kunci di Tingkat Akar Rumput
Kader Posyandu merupakan relawan kesehatan yang berasal dari dan bekerja untuk komunitasnya sendiri. Mereka menjadi penghubung utama antara sistem kesehatan formal dan masyarakat, khususnya ibu hamil dan keluarga dengan balita. Keberadaan kader tidak hanya bersifat administratif, seperti menimbang balita atau mencatat data kesehatan, tetapi juga komunikatif: memberikan penyuluhan, menjawab pertanyaan, dan menenangkan kekhawatiran orang tua.
Dalam kajian komunikasi, posisi kader Posyandu dapat dipahami sebagai opinion leader, yaitu individu yang memiliki pengaruh sosial lebih besar dibandingkan anggota komunitas lainnya. Opinion leader biasanya dipercaya karena kedekatan sosial, pengalaman, dan reputasi personal. Pesan yang mereka sampaikan cenderung lebih mudah diterima dibandingkan pesan yang datang langsung dari institusi pemerintah atau tenaga ahli yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kader Posyandu memiliki keunggulan komunikasi karena mereka berbicara dengan bahasa lokal, memahami norma budaya setempat, serta memiliki hubungan emosional dengan warga. Ketika kader menjelaskan pentingnya asupan gizi atau pola makan anak, pesan tersebut tidak hadir sebagai instruksi formal, melainkan sebagai nasihat dari sesama anggota komunitas.
Transformasi Komunikasi Kesehatan di Era Digital
Perkembangan media digital mengubah lanskap komunikasi kesehatan secara signifikan. Informasi tentang stunting kini tidak hanya diperoleh dari Posyandu atau puskesmas, tetapi juga dari media sosial, grup WhatsApp, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya. Kondisi ini membuka peluang sekaligus tantangan.
Di satu sisi, media digital memungkinkan penyebaran informasi kesehatan secara cepat dan luas. Di sisi lain, ruang digital juga menjadi ladang subur bagi misinformasi dan mitos kesehatan. Informasi yang tidak akurat tentang gizi anak, MPASI, atau pertumbuhan balita sering beredar dan dipercaya karena dikemas secara emosional dan persuasif.
Dalam konteks ini, kader Posyandu tidak lagi cukup berperan sebagai komunikator di ruang fisik Posyandu. Mereka juga perlu hadir di ruang digital, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagai rujukan informasi yang tepercaya.
Teori Ruang Publik Digital: Kerangka Analisis
Untuk memahami peran kader Posyandu dalam konteks ini, artikel ini menggunakan Teori Ruang Publik dari Jürgen Habermas, yang diperluas ke dalam konteks digital. Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai arena di mana warga berdiskusi secara rasional mengenai kepentingan bersama, bebas dari dominasi kekuasaan dan kepentingan sempit.
Dalam perkembangannya, para ilmuwan komunikasi melihat bahwa media digital membentuk ruang publik digital, yakni ruang diskursif baru tempat warga bertukar pendapat melalui platform daring. Ruang ini tidak selalu ideal, karena sering kali diwarnai emosi, ketimpangan akses, dan dominasi narasi tertentu. Namun, ruang publik digital tetap menjadi arena penting dalam pembentukan opini publik, termasuk opini tentang kesehatan.
Kader Posyandu dapat diposisikan sebagai aktor penting dalam ruang publik digital lokal. Ketika mereka berpartisipasi dalam grup WhatsApp warga atau menyebarkan informasi kesehatan melalui media sosial, mereka sebenarnya sedang terlibat dalam proses diskursus publik tentang stunting.
Kader Posyandu dan Tindakan Komunikatif
Dalam perspektif Habermas, komunikasi yang ideal adalah tindakan komunikatif, yaitu komunikasi yang berorientasi pada pencapaian pemahaman bersama. Kader Posyandu yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi secara normatif, tetapi juga membuka ruang dialog.
Misalnya, ketika seorang ibu menyatakan bahwa anaknya pendek karena faktor keturunan, kader tidak serta-merta menyalahkan atau membantah secara otoritatif. Sebaliknya, kader dapat mengajak berdiskusi, menjelaskan secara perlahan, dan mengaitkan informasi kesehatan dengan pengalaman sehari-hari ibu tersebut. Proses ini mencerminkan komunikasi yang rasional, partisipatif, dan empatik.
Dalam ruang publik digital, tindakan komunikatif ini menjadi semakin penting. Grup WhatsApp ibu-ibu, misalnya, dapat berfungsi sebagai mini ruang publik di mana isu stunting dibicarakan. Kehadiran kader di ruang ini membantu menjaga kualitas diskursus agar tidak didominasi oleh informasi keliru atau narasi yang menyalahkan individu.
Tantangan Struktural dan Kultural
Meskipun peran kader Posyandu sangat strategis, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Pertama, tidak semua kader memiliki literasi digital yang memadai. Kedua, beban komunikasi sering kali bertumpu pada kader perempuan, seiring dengan konstruksi sosial yang menempatkan isu kesehatan anak sebagai tanggung jawab perempuan.
Selain itu, kader sering berada dalam posisi ambigu: di satu sisi mereka adalah bagian dari komunitas, di sisi lain mereka membawa pesan dari negara. Ketegangan ini dapat memengaruhi cara mereka berkomunikasi, terutama ketika pesan kesehatan bertentangan dengan kebiasaan atau kepercayaan lokal.
Mengapa Isu Ini Penting untuk Dikaji?
Pemilihan judul Peran Kader Posyandu sebagai Opinion Leader dalam Komunikasi Stunting didasarkan pada kesadaran bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi di tingkat akar rumput. Pendekatan struktural dan medis tidak akan efektif tanpa dukungan komunikasi yang dialogis dan kontekstual.
Dengan menggunakan Teori Ruang Publik Digital, artikel ini menegaskan bahwa stunting perlu dibicarakan sebagai isu publik yang melibatkan partisipasi warga, bukan sekadar objek kebijakan apalagi sebuah. Kader Posyandu memiliki posisi unik untuk menjembatani kepentingan negara dan pengalaman hidup masyarakat.
Stunting adalah persoalan multidimensional yang menuntut pendekatan lintas disiplin. Dalam perspektif komunikasi kontemporer, kader Posyandu bukan hanya pelaksana program kesehatan, tetapi opinion leader dan aktor ruang publik yang berperan penting dalam membentuk pemahaman kolektif tentang kesehatan anak.
Memperkuat kapasitas komunikasi kader, termasuk dalam ruang digital, berarti memperkuat kualitas ruang publik kesehatan. Dengan demikian, upaya penurunan stunting tidak hanya menjadi proyek teknis, tetapi juga proses sosial yang partisipatif, dialogis, dan berkelanjutan.
(Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar-Makassar dan Analisis Kesehatan Puskesmas Long Bia Kabupaten Bulungan)














