Breaking News
Opini  

Tiktok, Gen Z dan Algoritmik Politik : Transformasi Ruang Publik Digital di Indonesia

Penulis : Hertasning

MKN, Bulungan, – Dalam satu dekade terakhir, lanskap komunikasi politik di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Jika sebelumnya ruang publik didominasi oleh media massa konvensional seperti televisi dan surat kabar, kini media sosial—khususnya TikTok—menjadi arena baru pembentukan opini publik. Platform berbasis video pendek ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi ruang diskusi politik, terutama bagi Generasi Z.

Data We Are Social menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna TikTok di Indonesia berasal dari kelompok usia 18–24 tahun. Kelompok usia ini beririsan langsung dengan Generasi Z, generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan budaya digital. Oleh karena itu, TikTok dapat dipahami sebagai ruang publik digital yang paling dekat dengan keseharian Gen Z.

banner 325x300

Isu ini menjadi penting untuk dibahas karena partisipasi politik Gen Z sering kali dianggap rendah atau apatis. Namun, kenyataan di ruang digital menunjukkan hal sebaliknya: Gen Z aktif mengonsumsi, memproduksi, dan menyebarkan konten politik—meski dengan gaya yang berbeda dari generasi sebelumnya. Politik hadir dalam bentuk video singkat, meme, parodi, hingga storytelling personal.

Mengapa TikTok dan Gen Z Layak Dikaji?

Pemilihan isu TikTok dan Gen Z dilatarbelakangi oleh tiga alasan utama. Pertama, TikTok merupakan platform yang paling sering digunakan Gen Z dibandingkan media sosial lainnya. Kedua, algoritma TikTok memiliki peran besar dalam menentukan konten politik apa yang dikonsumsi pengguna. Ketiga, komunikasi politik di TikTok cenderung bersifat emosional, visual, dan personal—karakter yang sangat disukai Gen Z.

Fenomena ini menunjukkan bahwa politik tidak lagi hadir dalam bentuk debat formal atau pidato panjang, melainkan dikemas dalam narasi singkat yang mudah disebarluaskan. Dengan demikian, TikTok berperan sebagai media transformasi ruang publik digital yang mempengaruhi cara Gen Z dalam memahami, menilai, dan terlibat dalam politik.

Teori Ruang Publik Digital: Dari Habermas ke Media Sosial

Konsep ruang publik pertama kali diperkenalkan oleh Jürgen Habermas sebagai ruang diskursif tempat warga negara berdiskusi secara rasional mengenai kepentingan bersama. Dalam konteks digital, konsep ini berkembang secara luas. Media sosial memungkinkan siapa pun untuk berbicara, berpendapat, dan mempengaruhi wacana publik tanpa harus melalui institusi media tradisional.

Namun, ruang publik digital tidak sepenuhnya ideal. Diskursus sering kali dipengaruhi oleh algoritma, kepentingan ekonomi, serta polarisasi identitas. Dalam konteks TikTok, ruang publik tidak netral karena algoritma “For You Page” (FYP) berfungsi sebagai kurator utama konten yang dilihat pengguna.

Meski demikian, TikTok tetap dapat dipahami sebagai alternatif ruang publik digital, terutama bagi Gen Z yang jarang mengakses ruang diskusi politik konvensional.

Algoritma Masyarakat Jaringan dan Politik Berbasis

Manuel Castells melalui teori Masyarakat Jaringan menjelaskan bahwa kekuasaan dalam masyarakat modern terletak pada penguasaan jaringan informasi. Dalam konteks TikTok, kekuasaan tidak hanya berada pada aktor politik, tetapi juga pada platform algoritma.

Algoritma TikTok menentukan konten mana yang viral, narasi mana yang dominan, dan suara mana yang terpinggirkan. Gen Z sebagai pengguna aktif menjadi bagian dari jaringan ini—sekaligus produsen dan konsumen pesan politik.

Fenomena “politik algoritmik” terlihat ketika konten politik tertentu viral bukan karena substansi, tetapi karena daya tarik visual, emosi, atau kontroversi. Hal ini menunjukkan bahwa logika popularitas sering kali mengalahkan logika rasional dalam ruang publik digital.

Gen Z Partisipasi Politik dalam Bentuk Baru

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z mengekspresikan partisipasi politik melalui cara-cara yang lebih cair dan kreatif. Mereka membuat video reaksi terhadap isu politik, menyampaikan kritik melalui sindiran, atau berbagi pengalaman pribadi yang bersifat politis.

Partisipasi ini mungkin tidak selalu berbentuk diskusi rasional ala Habermas, namun tetap memiliki nilai politis. Dalam konteks ini, TikTok menjadi media artikulasi identitas politik Gen Z—identitas yang cair, visual, dan berbasis pengalaman sehari-hari.

Namun, tantangan utama adalah risiko disinformasi dan polarisasi. Ketika algoritma lebih mengutamakan keterlibatan, konten yang provokatif cenderung lebih mudah dibandingkan konten edukatif.

Implikasinya bagi Demokrasi Digital di Indonesia

Transformasi ruang publik melalui TikTok membawa implikasi penting bagi demokrasi Indonesia. Di satu sisi, platform ini membuka ruang partisipasi yang lebih inklusif bagi Gen Z. Di sisi lain, platform dominasi algoritma dan logika ekonomi berpotensi meningkatkan kualitas diskursus publik.
Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci. Gen Z perlu dibekali kemampuan kritis untuk memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana informasi politik dikonstruksi di media sosial. Selain itu, aktor politik dan pemerintah perlu memahami bahwa komunikasi politik kepada Gen Z tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan top-down.

Penutup

TikTok telah menjadi ruang publik digital baru yang sangat dekat dengan Generasi Z. Melalui lensa Teori Ruang Publik Digital dan Masyarakat Jaringan, dapat dipahami bahwa komunikasi politik di TikTok bersifat kompleks—dipengaruhi oleh algoritma, budaya populer, dan jaringan sosial.
Gen Z bukan generasi apatis, melainkan generasi dengan cara berpolitik yang berbeda.

Tantangannya adalah bagaimana memastikan ruang publik digital ini tetap sehat, inklusif, dan berkontribusi positif bagi demokrasi Indonesia.

(Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar-Makassar dan ASN di Dinas Sosial Kab. Bulungan)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *