Penulis : Roynal D. Mangesa, SKM, C.IP
MKN, Bulungan – Sunyi tak pernah sendirian, ia selalu terkait dengan kita, aku dan dunia, demikian kata Goenawan Mohamad dalam tulisannya di Majalah Tempo. Ungkapan puitis yang berarti kesunyian atau waktu sendiri bukanlah kehampaan melainkan kesempatan untuk terhubung dengan diri sendiri dan alam semesta.
Ungkapan puitis di atas mengawali coretan penaku di malam Natal yang sunyi dalam kesendirian, mungkin sebuah paradoks malam Natal bagi sebagian orang.
Paradoks malam Natal yang sunyi dan sendiri muncul karena Natal identik dengan kebersamaan, sukacita, dan kehangatan keluarga.
Namun bagi sebagian orang, Natal justru hadir dalam sunyi – sebuah ruang hening yang memantulkan kembali suara-suara hati yang mungkin tenggelam dalam kesibukan hari-hari biasa. Kesunyian itu kadang menyakitkan dan kadang juga menyenangkan. Tetapi malam ini, dalam sepi yang memeluk, ada cahaya lain yang perlahan muncul-cahaya yang tidak berasal dari lampu-lampu Natal, melainkan dari pengertian tentang arti kehadiran diri sendiri.
Aku duduk di dapur, ruangan yang selalu ramai dengan cerita, canda dan tawa bersama teman yang terkadang hingga larut malam, “markas”, demikian kami menyebut rumah dinas yang reyot mirp gubuk ini. Lewat jendela aku memandangi hujan gerimis yang jatuh seperti jarum tipis membelah udara malam dan suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.
Kampung tampak redup, seakan sedang menarik napas panjang setelah sepanjang tahun berlari tanpa henti.
Tak seperti malam sebelumnya, yang ramai dengan iringan kendaraan melajuh depan rumah sembari memutar kidung Natal syahdu, malam ini justru antiklimaks tak ada konvoi kendaraan, tak ada klakson motor, tak ada kidung Natal. Di kejauhan terdengar samar suara piano Gereja tapi suaranya tak lagi memberi sensasi meriah seperti dulu. Malam ini, suara itu justru terasa seperti pengingat bahwa aku sedang sendiri. Bukan kesendirian yang dipilih, melainkan yang perlahan datang, seperti bayangan yang tak bisa dihindari.
Di ruang yang hening itu, aku sempat bertanya-tanya: apakah arti Natal masih sama ketika tidak ada tawa keluarga, tidak ada hadiah yang dibuka bersama, atau meja makan yang penuh hidangan? Apakah makna Natal harus selalu dirayakan dalam kebersamaan? Atau ada sisi lain yang selama ini tertutupi oleh keramaian yang dianggap sebagai norma?
Kesendirian pada malam Natal adalah paradoks yang sulit dipahami. Bagaimana mungkin sebuah perayaan tentang kelahiran Sang Juru Selamat momen yang dirayakan bersama menjadi begitu pribadi, begitu hening? Namun justru dalam keheningan itulah aku menemukan ruang untuk mendengarkan lagi suara-suara yang selama ini tertutup oleh riuh rutinitas: suara kegelisahan yang belum diselesaikan, suara rindu yang tak sempat diungkapkan, dan suara kecil dari dalam diri yang selama ini terpinggirkan.
Aku menyadari bahwa kesendirian yang tak terucapkan bukanlah ketiadaan makna. Kesendirian justru membuka ruang untuk mengingat kembali perjalanan diri tentang luka yang belum sembuh, tentang kebahagiaan kecil yang terlupa, tentang harapan yang tertunda, tentang suara hati yang mungkin selama ini terabaikan dan tentang doa-doa yang mungkin terlalu pelan sehingga hanya bisa terdengar ketika dunia sedang sunyi. #Selamat Natal, Semoga Natalmu menggembirakan
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNIFA Makassar














