Breaking News

Raja Muda Datu Alam: Pangeran Bulungan yang Menentang Penjajahan Belanda di Tanjung Selor 3

Napak tilas jejak heroik keluarga kerajaan Bulungan yang melawan penjajahan Belanda dan inspirasi bagi generasi muda Kaltara

Raja
Joko Supriyadi, Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya.

Mata Kaltara News, Tanjung Selor — Semangat kepahlawanan di Hari Pahlawan Nasional tahun ini mengingatkan kita pada satu nama besar dari Bumi Bulungan: Raja Muda Datu Alam, putra Sultan Datu Alam Muhammad Chalifatul Adil, yang mewarisi darah pejuang dan semangat menentang kolonialisme Belanda.

Sang ayah, Sultan Datu Alam, dikenal sebagai pemimpin religius dan cendekiawan yang menolak tunduk pada perjanjian politik Belanda. Ia wafat pada 30 April 1874 setelah diracun dalam jamuan yang diatur oleh pihak Belanda.

banner 325x300

Raja Muda Datu Alam tumbuh dengan ajaran Islam yang kuat dan inspirasi keperwiraan dari para leluhurnya. Para pendahulu Kesultanan Bulungan dikenal sering memimpin ekspedisi militer melawan bajak laut Sulu dan mempertahankan wilayah hingga perairan Tawi-Tawi (Filipina).

“Datu Alam bukan hanya pewaris tahta, tapi pewaris jiwa kepahlawanan dari darah Tidung, Bulungan, dan Dayak,” tulis Joko Supriyadi dalam catatan sejarahnya.

Setelah bertahun-tahun diasingkan, Raja Muda akhirnya kembali ke tanah kelahiran di usia senja dan wafat di Tanjung Palas, dimakamkan tak jauh dari Jembatan Tanjung Selor–Tanjung Palas.

Kini, banyak kalangan berharap Raja Muda Datu Alam dapat diusulkan sebagai Pahlawan Nasional asal Kalimantan Utara.

Tulisan ini bagian akhir dari serial “Napak Tilas Hari Pahlawan Nasional: Sejarah Perlawanan Raja Muda Datu Alam dari Bulungan”.

Penulis: Joko Supriyadi

Editor: Redaksi Mata Kaltara News

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *