Breaking News

Mangrara,Prosesi Peresmian Tongkonan Rumah Adat Khas Toraja yang Sarat Makna

Matakaltaranews.com – Toraja,  Mampu membangun sebuah tongkonan menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Toraja.

Tongkonan merupakan rumah adat yang sarat makna khas suku Toraja di Sulawesi Selatan.

banner 325x300

Selain berkaitan dengan strata sosial, membangun Tongkonan sekaligus sebagai ajang melestarikan tradisi yang diwariskan turun-temurun berasal dari Aluk Todolo.

Menjadi sebuah proses panjang nan sakral untuk membangun Tongkonan hingga benar-benar layak ditempati dan digunakan.

Mantan Kepala Kantor Kemenag Tana Toraja, Nurdin Baturante dalam bukunya, Toraja Tongkonan & Kerukunan, mengatakan, sebuah bangunan rumah Tongkonan yang meskipun secara fisik telah rampung pembangunannya tidak serta merta ditempati.

Hal itu kata dia, karena kesiapan suatu bangunan rumah Tongkonan untuk ditempati dan dapat digunakan tergantung pada selesainya diresmikan lewat acara/upacara Mangrara Tongkonan

Peresmian atau pentabisan yang secara garis besar menurut Aluk Todolo terdiri dari Ma’padao Paara (menempatkan/meletakkan di atas semacam rak piring); Mangrara Disangalloi (mengalirkan darah/berkurban untuk hanya satu hari); Mangrara Ditallung Alloi (mengalirkan darah/berkurban untuk dijadikan tiga hari) atau Mangrara Banua Ditallu Rarai (mengalirkan darah/berkurban dengan tiga macam darah hewan mulai kerbau, babi, dan darah ayam) atau disebut juga Merok Mangrara Banua.

Mangrara Ditallung Alloi dalam buku Nurdin mengacu pada acara syukuran yang dilaksanakan selama tiga hari dan berlaku untuk tongkonan jenis Kaparengngesan atau tongkonan Pekaindoran dan Pekaamberan.

Pengorbanan pada acara atau upacara ini berupa babi tambun yang dibawah oleh seluruh keluarga yang menjadi rumpun rumah tongkonan dengan tidak membatasi jumlahnya.

Dagingnya, disamping sebagai sesembahan atau sesajian, juga dibagi sesuai adat.

Pelaksanaannya dilaksanakan selama tiga hari meliputi hari pertama dengan acara Ma’tadampuk, suatu acara yang secara simbolis menyusun atap-atap kecil dengan kurban persembahan satu ekor babi.

Hari kedua dengan acara Ma’paapa (memasang atap) yang dimaknai sebagai hari puncak dari hari-hari Mangrara sehingga pada hari ini kurban babi paling banyak dilakukan. Juga diharapkan pada hari ini seluruh rumpun tongkonan yang diresmikan dapat hadir.

Kemudian hari ketiga dengan acara Ma’buubung atau simbolis pemasangan bubungan pada rumah tongkonan atau acara selamatan secara resmi dengan kurban persembahan dua hingga tiga ekor babi.

Adapun untuk Mangrara Banua Ditallurarai dalam Buku Nurdin pelaksanaannya sama dengan Mangrara Banua Ditallungalloi.

Bedanya hanya pada hewan yang dikurbankan.

Jika Mangrara Banua Ditallungalloi tidak ada kerbau, sementara Mangrara Banua Ditallurarai ada kurban kerbau paling sedikit satu ekor dan paling banyak tiga ekor.

Mangrara Banua Ditallurarai adalah pelaksanaan acara atau upacara peresmian rumah tongkonan yang tertinggi di kalangan masyarakat Toraja.

Itu dilakukan untuk tongkonan jenis Layuk dan tongkonan Kaparengngesan atau tongkonan Pekaindoran/Pekaamberan.

Menurut Nurdin, lewat tongkonan-tongkonan itulah muncul pemerintah dan pemerintahan adat yang mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan berdasarkan ajaran Aluk Todolo.

Upacara Mangrara Banua Ditallurarai ini untuk beberapa wilayah adat ada yang menamakannya dengan istilah Merouk Mangrara Banua.

Salah satu rumpun atau Tongkonan yang baru menggelar Mangrara Banua yakni Tongkonan Bara’ Solo’ Lion Makale Utara

Puncak upacara yang sarat makna ini digelar di Kelurahan Lion Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Jumat (4/4/2025). Di mana rangkaian prosesinya telah berlangsung sejak Rabu (2/4/2025).

Tampak Tongkonan yang baru dibangun menjulang kokoh dipenuhi dengan ukiran dan didekorasi dengan berbagai ornamen khas Toraja.

Dalam puncak Mangrara Banua ini, hadir seluruh lapisan rumpun Tongkonan Bara’ Solo’ Lion.

Mereka terlihat mengenakan pakaian etnik khas Toraja yang didominsi warna cerah, khususnya warna kuning.

Warna kuning diketahui memiliki makna tersendiri bagi orang Toraja, melambangkan anugerah yang telah diberikan Sang Pencipta. (rdm, sc : tribun Toraja)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *