MKN | APAU KAYAN – Upaya memperkuat konektivitas kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia kembali didorong melalui kunjungan kerja Wakil Menteri Digital Sarawak, Datuk Wilson Uga Anak Kumbong, ke Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (25/3/2026).
Dalam agenda tersebut, rombongan dari Sarawak meninjau langsung Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Long Nawang di Kecamatan Kayan Hulu, yang dinilai memiliki peran penting sebagai gerbang aktivitas masyarakat lintas negara.
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah strategis kedua pihak dalam meningkatkan pelayanan lintas batas sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di kawasan perbatasan.
Wilson yang hadir bersama sejumlah pejabat wilayah Sarawak, termasuk perwakilan dari Kapit dan Miri, mengaku terkesan dengan kesiapan fasilitas PLBN yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur perbatasan seperti PLBN sangat penting dalam menunjang mobilitas masyarakat serta memperlancar arus perdagangan antarnegara.
Ia menjelaskan, pembangunan fasilitas ICQS (Immigration, Customs, Quarantine, Security) di wilayah Sarawak masih menjadi kewenangan pemerintah pusat Malaysia. Namun, pihaknya akan mengusulkan percepatan pembangunan tersebut agar dapat segera terealisasi.
“Kami melihat fasilitas di Indonesia sudah sangat baik. Ini bisa menjadi contoh untuk pengembangan di Sarawak,” ujarnya.
Wilson juga menilai, kehadiran PLBN di kedua sisi perbatasan nantinya akan memberikan dampak besar, khususnya bagi masyarakat di wilayah pedalaman yang selama ini bergantung pada akses lintas negara.
“Dengan adanya fasilitas yang memadai, mobilitas masyarakat antara Long Nawang dan Kapit akan lebih mudah, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi,” tambahnya.
Selain sebagai pintu masuk dan keluar negara, konsep pengembangan PLBN di Sarawak ke depan juga akan diarahkan menjadi pusat ekonomi terpadu yang dilengkapi fasilitas perdagangan dan layanan publik.
Dorong Pembangunan Seimbang
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, menyambut baik kunjungan tersebut dan menilai hal ini sebagai momentum penting dalam mempererat hubungan kedua wilayah perbatasan.
Ia menegaskan bahwa masyarakat di perbatasan Indonesia dan Malaysia, khususnya di Kaltara dan Sarawak, memiliki keterikatan historis dan budaya yang kuat sebagai satu rumpun.
Karena itu, menurutnya, pembangunan di kawasan perbatasan harus dilakukan secara seimbang oleh kedua negara.
“Kami berharap ada perhatian yang sama dari kedua pihak agar pembangunan di perbatasan bisa berjalan seiring,” kata Ingkong.
Ia menambahkan, keberadaan PLBN yang optimal di kedua sisi akan mendorong pertumbuhan ekonomi, memperbaiki sistem perdagangan, serta membuka peluang kerja sama lintas sektor.
“Tidak hanya ekonomi, tapi juga sektor pendidikan, kesehatan, hingga keamanan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ingkong menyoroti posisi strategis PLBN Long Nawang yang memiliki konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan jarak sekitar 700 kilometer.
Hal ini dinilai menjadi potensi besar dalam mendukung pengembangan kawasan perbatasan di masa mendatang.
Ia pun berharap hasil kunjungan dan pembahasan bersama tersebut dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia.
“Yang terpenting adalah bagaimana kerja sama ini bisa berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat perbatasan, khususnya di Malinau dan Apau Kayan,” pungkasnya.(*)














