RINGKASAN EKSEKUTIF
Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan program nasional yang mendorong masyarakat untuk melakukan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Namun, pelaksanaannya di daerah sering menghadapi kendala rendahnya partisipasi stakeholder akibat tidak adanya insentif keuangan langsung.
Stakeholder di tingkat kabupaten/kota dan pelaku aksi di lapangan kerap mempertanyakan manfaat nyata dari keterlibatan mereka. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya dukungan dana dari pemerintah pusat, sehingga menuntut inovasi dan kesadaran lokal untuk menjaga keberlanjutan program.
Melalui sosialisasi intensif, pendampingan, dan komunikasi persuasif, beberapa wilayah menunjukkan hasil positif — kesadaran masyarakat meningkat, dan muncul aksi nyata berbasis kemandirian. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebijakan berbasis insentif non-keuangan, kolaborasi lintas sektor, dan integrasi dalam perencanaan daerah untuk
memperkuat keberlanjutan ProKlim di tingkat tapak.
PENDAHULUAN
Perubahan iklim menjadi tantangan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama di wilayah rentan seperti pedesaan dan kawasan pesisir. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam melakukan aksi adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim.
Namun, dalam praktik di lapangan, pelaksanaan ProKlim seringkali menghadapi hambatan partisipasi dari stakeholder, baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pelaku aksi masyarakat. Banyak yang mempertanyakan manfaat langsung dari keterlibatan mereka, terutama karena tidak adanya insentif keuangan yang menyertai program ini.
Keterbatasan dukungan dana dari pemerintah pusat menjadi tantangan tersendiri bagi daerah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan secara mandiri.
Permasalahan Utama
-
Rendahnya motivasi stakeholder dan masyarakat karena tidak ada manfaat ekonomi langsung.
-
Kurangnya pemahaman tentang manfaat ekologis dan sosial jangka panjang dari aksi iklim.
-
Keterbatasan pendanaan dan sumber daya di tingkat daerah.
- Ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat, sehingga inovasi lokal belum optimal.
DESKRIPSI MASALAH
-
Implementasi aksi iklim di tingkat tapak berjalan lambat.
-
Partisipasi masyarakat belum berkelanjutan.
-
Keberhasilan lingkungan sulit diukur secara signifikan.
-
Potensi kolaborasi lintas sektor belum dimaksimalkan.
Rekomendasi Kebijakan Berdasarkan Aspek Strategis
1. Insentif Non-Keuangan
Pemerintah daerah dapat memberikan penghargaan, sertifikat, atau pengakuan
publik bagi desa/kelurahan aktif ProKlim.
2. Kolaborasi Multi-Pihak
Libatkan BUMD, dunia usaha, dan CSR perusahaan untuk mendukung pendanaan kegiatan adaptasi dan mitigasi iklim.
3. Penguatan dan Edukasi Kapasitas
Laksanakan pelatihan dan pendampingan teknis bagi pelaku aksi lokal untuk memahami manfaat sosial-ekonomi dari kegiatan iklim.
4. Kampanye Perubahan Perilaku
Gunakan media sosial, radio lokal, dan kegiatan komunitas untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa aksi iklim hanya bergantung pada dana.
5. Integrasi ke Dokumen Perencanaan Daerah
Masukkan kegiatan ProKlim dalam RPJMD, RKPD, dan Renstra OPD agar memiliki legitimasi dan keberlanjutan.
KESIMPULAN
Kurangnya dukungan finansial bukan alasan untuk berhenti melaksanakan aksi iklim. Kesadaran, kolaborasi, dan kepemimpinan lokal adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan ProKlim. Pemerintah daerah perlu berperan sebagai motivator, bukan sekadar penyedia dana, agar aksi iklim menjadi gerakan bersama yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan sinergi, pengakuan, dan inovasi lokal — ProKlim dapat menjadi contoh nyata pembangunan berketahanan iklim di tingkat tapak.
Menunda & Menyimpan Air
Blopor
DAFTAR PUSTAKA
- UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. P.81/MenlhkSetjen/Kum.I/II/20016 tentang Program Kampung Iklim.
- Peretutan Direktur Jendral Pengendalian Perubahan Iklim No.P.1/PPI/SET/KUM.1/2/2
- Pereturan Direktur Jendral Pengendalian Perubahan Iklim Nomor P.4/PPI/API/PPIL.0/3/202Iklim
- Program Kampung Iklim
Kontak
Penyusun Policy Brief: Eddy Soeyono, S.Hut., M.Si.
+62 812 5422 3234














