Breaking News

MAY DAY 2025 KOLABORASI RAKYAT KECIL

Mata Kaltara News – Tanjung Selor, Dalam rangka merayakan hari buruh 1 Mei 2025, Forum Intelektual Kaltara (FIKR) menginisiasi aksi mimbar bebas di Tugu Cinta Damai dengan konsep kolaborasi buruh-tani-nelayan-mahasiswa-rakyat miskin kota-komunitas adat-kaum tertindas lainnya (Kolaborasi Rakyat Kecil).

Sejauh ini telah bergabung 35 komunitas/organisasi/tokoh yang turut menyusun petisi yang akan disampaikan pada hari H nanti, yang terdiri dari FORUM INTELEKTUAL KALTARA (FIKR), FSPMI Kaltara, LEMBAGA ADAT KESULTANAN BULUNGAN KALTARA, Serdaduuq Adat Regatn Tatau DPD Kab. Tana Tidung Kaltara, SAWIT WATCH, LMND Kaltara, Serikat Buruh Perjuangan Indonesia (SBPI) Kaltara, PARTAI BURUH, MEDIA TIPIKOR, PMII Tg. Selor, Aliansi Pemuda Tg. Selor utk percepatan DOB, Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Kaltara, Pemuda Kayan, Pejuang Plasma Sepanjang Sungai Kayan, Lembaga investigasi negara prov kaltara (LIN Kaltara), Pejuang Percepatan Pembangunan Jalan Peso, Himpunan Pemuda Bulungan Kaltara, Pemuda Dayak Punan, LMND Bulungan, AMAN Bulungan, Mahasiswa Dayak Kenyah Kota Tarakan, Pemuda Dayak Belusu, Pemuda Tanah Kuning-Mangkupadi, Pemuda Kampung Baru, KASBI Kaltara, Kaukus Perempuan Politik Indonesia Kaltara, HIMAJEP STIE, Yayasan Lembaga Budaya Dayak Tidung Bersatu, Komunitas Nelayan Tradisional Bulungan, DPAC PUSAKA MANGKUPADI, GMNI Cab. Bulungan, Pos Bantuan Hukum Advokat Indonesia Tg. Selor. , KSPSI KAHUT Bulungan, Gabungan Supir Truk Bulungan, Dr. Ismit Mado, Tokoh Pemekaran Kaltara, Forum Guru Tapal Batas Kaltara, Forum Peduli Malinau dan Lingkungan (FOPMAL).

banner 325x300

Pada acara mimbar bebas ini setiap perwakilan organisasi akan melakukan orasi/pidato menyampaikan keluh kesah rakyat kecil di Kaltara. Ekspresi berupa pembacaan puisi juga diperbolehkan untuk ditampilkan.

Adapun sejauh ini sudah ada 45 petisi yang terkumpul dari semua organisasi. Isi petisi cukup beragam, mulai dari tuntutan penolakan terhadap penghapusan insentif guru di Kaltara sampai persoalan pembangunan jalan ke peso. Jumlah petisi ini bisa bertambah sesuai dengan bertambahnya organisasi/komunitas yang bergabung. Isi petisi akan disampaikan pada tulisan berikutnya.

Selama persiapan acara, berbagai pihak termasuk pihak keamanan (Polda Kaltara) membangun komunikasi dengan organisasi yang rencananya bergabung dengan aksi ini. Mereka mempertanyakan mengenai beberapa hal sebagai berikut.

Kenapa lokasi acara di Tugu Cinta Damai? Lokasi acara sengaja dipilih di Tugu Cinta Damai karena selain ini adalah tempat publik yang indah dengan pemandangan tepi sungai, lokasi ini juga memiliki sejarah tersendiri. Sejarahnya berkaitan dengan kesepakatan damai antar kubu yang sebelumnya berkonflik. Itulah mengapa tugu ini disebut Tugu Cinta Damai, karena menjadi penanda suatu harapan bersama untuk bersatu. Kolaborasi rakyat kecil memang menginginkan persatuan. Di sisi lain, tempat ini luas, sehingga orang banyak dapat berkumpul dengan resiko gangguan kenyamanan pengguna jalan dan resiko kerusakan infrastruktur yang minimum.

Kenapa mimbar bebas? bukan acara diskusi atau syukuran? Kami memilih acara mimbar bebas karena alasan sejarah juga. Dulu, pada 1 mei 1886, sekitar 400 ribu buruh di Chicago turun ke jalan mogok kerja dan melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja dari 19 jam menjadi 8 jam. Kemudian kejadian tersebut ditetapkan sebagai hari buruh internasional atau may day oleh Kongres Sosialis Sedunia. Oleh karena itu, aksi mimbar bebas dirasa lebih tepat karena sesuai sejarahnya tersebut.

Pertanyaan lain yang diajukan adalah kenapa kolaborasi? Menurut ketua FIKR, kolaborasi rakyat kecil merupakan sebuah strategi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta mensukseskan tujuan bersama rakyat indonesia yakni masyarakat yang makmur dan sejahtera.

Di sisi lain, kolaborasi rakyat kecil di Kaltara juga akan memperkuat solidaritas rakyat indonesia di perbatasan, sehingga dapat ikut menjaga keutuhan NKRI.

FIKR adalah ormas. Kenapa ormas merayakan hari buruh? Kami menjawab, jika tidak ada larangan berarti boleh. Pemerintah dan Pengusaha juga bisa merayakan hari buruh, kenapa ormas tidak boleh?
Kenapa tidak diskusi saja dengan pemerintah agar didengar? Daripada turun ke jalan belum tentu didengar? Kami menjawab: justru turun ke jalan karena merasa kurang didengar.

Demikianlah pertanyaan dan jawaban terkait rencana aksi kolaborasi. Nampaknya ada kekhawatiran-kekhawatiran dari berbagai pihak atas acara tersebut.

Pihak keamanan khawatir terjadi bentrokan-bentrokan. Sedangkan pihak asing dan jahat mungkin khawatir dengan kekuatan kolaborasi rakyat kecil yang tidak bisa dipandang enteng.

Jumlah buruh terus bertambah dan kesadarannya terus meningkat. Menurut data BPS, pada tahun 2018 jumlah buruh formal di Indonesia adalah 49 juta orang. Sedangkan pada tahun 2024, jumlahnya menjadi 56 juta orang. Artinya dalam 6 tahun naik 7 juta orang. Setiap tahun berarti bertambah sekitar 1 juta orang.

Itu baru buruh formal, belum ditambah dengan buruh informal (buruh lepas pertanian, buruh lepas non pertanian, buruh keluarga). Saat ini, total buruh formal dan informal indonesia sekitar 88 juta orang.

Jumlah di atas itu baru jumlah kaum buruh. Belum termasuk mahasiswa, petani, nelayan, rakyat miskin kota, komunitas adat dan kaum tertindas/marginal lainnya.

Bayangkan kalau mereka semua sadar apa hak nya dan berani turun ke jalan. Jumlah buruh formal dan informal di Kaltara tidak sebanyak itu,  “hanya” sekitar 239 ribu orang (BPS,2024). Menurut data BPS dan data resmi lainnya, jumlah petani  sekitar 59 ribu orang, nelayan sekitar 11 ribu orang, mahasiswa sekitar 12 ribu orang dan rakyat miskin se Kaltara sekitar 41 ribu orang.

Melihat sebaran penduduk Kaltara, jumlah anggota komunitas adat di Kaltara tentunya tidak kurang dari 200 ratus ribu orang. Mereka terdiri dari orang Bulungan, Tidung, Kenyah, Kayan, Lundayeh, Agabag, Belusu, Tagol, Abai, Punan dan lain sebagainya. Mereka tinggal di kampung-kampung dengan ciri khas dan wilayah adatnya sendiri.

Oleh karena itu, total kolaborasi rakyat kecil Kaltara sekitar 239 + 59 + 11 + 41 + 200 = 550 ribu orang atau sekitar 70% dari jumlah penduduk Kaltara. Kita bisa bayangkan kalau mereka sadar akan hak nya dan berani turun ke jalan menuntut haknya.

Aksi mimbar bebas di Kaltara diharapkan dapat berjalan damai sehingga tidak terjadi bentrokan-bentrokan.

Oleh karena itu jauh hari, tanggal 22 april 2025 pihak penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan ke Polda agar pihak keamanan dapat menyiapkan berbagai upaya dalam rangka menjalankan tugasnya membantu pengamanan selama aksi disiapkan dan dilakukan. Di sisi lain, aksi mimbar bebas diharapkan juga dapat membangun kesadaran dan keberanian rakyat kecil untuk menuntut hak-haknya.

Pendek kata, apa yang diinginkan mereka? Keadilan dan Kebebasan. Kebebasan dan Keadilan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, sebagaimana dikatakan dengan jelas oleh seorang penulis bernama Albert Kamus,
“Kebebasan dipilih pada waktu yang sama dengan Keadilan, dan terus terang kita tidak dapat memilih salah satu tanpa yang lainnya. Jika seseorang merebut roti anda, pada waktu yang sama dia menindas kebebasan anda. Namun, jika seseorang merebut kebebasan anda, anda boleh yakin bahwa roti anda terancam juga.”

Lebih jauh lagi, perlulah kaum buruh menyambut seruan Karl Marx yang menggelegar sejak 200 tahun yang lalu:
“Kaum buruh tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka.

Mereka akan menguasai dunia. Kaum buruh sedunia, bersatulah!”

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *